Ilustrasi
SURABAYA, radarpenanews.com – Kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi jenis Pertalite dan Biosolar melanda sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Kota Surabaya sejak pertengahan Oktober 2026. Kondisi ini memicu antrean kendaraan yang mengular panjang dan memicu gelombang keluhan dari berbagai lapisan masyarakat yang kesulitan mendapatkan bahan bakar untuk mobilitas harian mereka.
Berdasarkan pantauan di lapangan, kekosongan stok Pertalite terjadi di beberapa titik strategis, seperti SPBU di Jalan Arjuno, Jalan Tidar, Jalan Semarang, Jalan Anjasmoro, serta kawasan Rungkut dan Medokan.
Kondisi serupa juga sempat terjadi di beberapa SPBU di Kecamatan Sukolilo Kota Surabaya. Antrean kendaraan roda dua dan roda empat di Sukolilo sempat tampak mengular hingga ke bahu jalan di luar area SPBU, memaksa warga menunggu berjam-jam demi mendapatkan giliran pengisian.
BACA JUGA: Brimob Polda Jatim Salurkan 40 Ribu Liter Air Bersih untuk Warga Gresik dan Sidoarjo
Krisis pasokan ini memicu keluhan dari warga Surabaya, khususnya para pengendara roda dua, pengemudi ojek online (ojol), dan pekerja harian. Para pengemudi ojol mengeluhkan waktu produktif mereka yang terbuang sia-sia hanya untuk mengantre berjam-jam di SPBU, yang berdampak langsung pada penurunan pendapatan harian.
Sebagian warga mengaku terpaksa merogoh kocek lebih dalam untuk beralih ke BBM nonsubsidi yang harganya jauh lebih mahal, atau terpaksa membeli bensin eceran demi bisa tetap bekerja.
Kondisi Terkini di Sukolilo dan Medokan Semampir
Memasuki tanggal 17 Oktober 2026, stok Pertalite di wilayah Kecamatan Sukolilo serta daerah sekitarnya seperti Nginden dan Semolo dilaporkan mulai terisi kembali dan berangsur pulih. Pihak Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus menyatakan telah menggelontorkan pasokan dari depot penyangga untuk mengisi tangki-tangki SPBU yang sempat kosong akibat jeda waktu pengiriman.
Bagi warga yang berada di sekitar Kelurahan Medokan Semampir, berikut adalah beberapa alternatif SPBU terdekat yang dapat diakses untuk melakukan pengisian:
• SPBU Pertamina 54.601.127 Ir Soekarno (MERR), Titik terdekat dari area pemukiman warga Medokan Semampir.
• SPBU Pertamina 54.601.102 Nginden Semolo, Jalur alternatif di koridor Sukolilo yang dilaporkan telah menerima pasokan pemulihan.
• SPBU Pertamina 54.601.46 – Arief Rahman Hakim menjadi opsi bagi warga perbatasan Rungkut dan Sukolilo.
• SPBU Pertamina-54.602.69 Klampis Ngasem.
Penyebab dan Pengetatan Kebijakan Pertamina
Pertamina Patra Niaga mencatat bahwa kelangkaan ini dipicu oleh fenomena migrasi masif konsumsi masyarakat dari BBM nonsubsidi ke BBM bersubsidi akibat tekanan finansial. Lonjakan permintaan ini diperparah oleh gangguan jadwal sandar kapal tanker akibat dinamika geopolitik global, yang memaksa Pertamina melakukan penyesuaian jalur distribusi dari terminal BBM terdekat.
BACA JUGA: Garis Start Bernama UU Perlindungan Ketenagakerjaan
Guna memastikan penyaluran tetap tepat sasaran dan mengurai antrean, Pertamina memperketat pengawasan di seluruh SPBU Surabaya. Kebijakan yang berjalan saat ini mewajibkan penggunaan QR Code MyPertamina untuk mencocokkan nomor polisi kendaraan guna menghindari pembelian berulang di hari yang sama.
Selain itu, petugas SPBU secara ketat dilarang melayani kendaraan dengan tangki modifikasi berukuran besar yang berniat menimbun BBM bersubsidi untuk dijual kembali.
Sebagai perbandingan regional, daerah tetangga seperti Bali bahkan telah resmi menerapkan sistem ganjil-genap untuk pembelian Pertalite per 17–19 Oktober 2026. Namun, untuk wilayah Kota Surabaya, Pertamina saat ini masih fokus pada optimalisasi penambahan volume armada pengiriman ke SPBU yang mengalami lonjakan permintaan guna mempercepat normalisasi distribusi. (redaksi)








