Yuk..!! Pahami Makna Tujuh Bulan Turun Tanah

JATIM, SURABAYA72 Dilihat

M. Nur Alhaya Santoso bareng ayah tercinta (Foto: istimewa)

SURABAYA, radarpenanews.com – Mempelajari budaya atau adat secara langsung memberikan pengalaman dan pelajaran berharga. Salah satunya adalah menyaksikan upacara Turun Tanah Bayi di usia 7 (Tujuh) bulan atau acapkali dalam budaya disebut “Tedak Siten”, sebuah tradisi sakral yang menandai momen pertama seorang bayi menginjakkan kaki di tanah.

Kebiasaan ini dalam tradisi masyarakat Jawa Timur dilakukan waktu bayi berumur 7 bulan dalam hitungan Jawa yang jika dikonversi ke kalender Masehi sekitar usia 8 bulan.

Tradisi Tedak ‘Modon Lemah’

‘Modon Lemah’ (Turun Tanah-red) untuk memperingati seorang bayi menjelang masa pertama kali turun ke tanah diartikan sebagai salah satu penghormatan kepada Bumi ketika sang anak menginjakkan kaki pertama kali agar kelak mendapat kemudahan dalam menjalankan kehidupan.

Tedak Siten berasal dari kata “tedhak” dan “siten” yang memiliki makna “menapakkan kaki atau turun” dan “tanah”. Tedak Siten berarti upacara atau tradisi yang digelar sebagai simbol turun tanah atau dalam bahasa Jawa adalah “mudun lemah”. Hal ini dilakukan sebagai bentuk syukur sekaligus menjaga atau melestarikan budaya Jawa agar tidak hilang.

Tradisi Tedak Siten sudah ada sebelum Islam hadir di Jawa. Sebagaimana sejarah terdahulu, Walisongo dalam menyebarkan Islam menganggap tradisi ini tidak menyimpang, sehingga masih dilestarikan hingga saat ini. Terdapat beberapa nilai yang berbudi luhur dari penerapan Tedak Siten, yakni nilai keikhlasan dan pendidikan.

Survive: Ananda M. Nur Alhaya Santoso Modon Lemah

Berangkat dari “seng penting iklas” usia 7 bulan hanyalah menyingkap tirai isi kepekaan antara hati dan nurani seolah tidur dalam keseharian namun tanpa dirasa.

Tepat pada hari Sabtu tanggal 2 Agustus 2025, ananda M. Nur Alhaya Santoso Putra Bungsu Tercinta dari pasangan suami istri BUDI SANTOSO DAN SALMA menapak jari  dan telapak kaki di atas Jadah atau dikenal dengan sebutan uli ketan atau tetel dalam dalam bahasa jawa.

Rasa sayang bercampur bahagia, sang pemberi Cahaya telah memberikan anak laki-laki sehat, kadang tertawa, mencengkerama kedua tanganya hingga luka bahagia meninggalkan tapaknya.

“SELAMAT TAMBAH USIA NAK, SEHAT SELALU, SELAMAT DUNIA AKHIRAT”

PENULIS: BUDI SANTOSO

Wartawan Kompeten Utama