JAKARTA, radarpenanews.com – Eskalasi konflik di Timur Tengah kini menjadi sorotan utama pasar komoditas global. Ketegangan geopolitik yang melibatkan negara-negara produsen minyak utama dunia tersebut diprediksi akan menjadi motor penggerak lonjakan harga minyak sawit mentah atau Crude Palm Oil (CPO) dalam waktu dekat.
Analis pasar komoditas menyebutkan bahwa setiap gangguan pada pasokan energi global di kawasan tersebut hampir selalu berdampak langsung pada kenaikan harga minyak mentah. Mengingat korelasi positif antara minyak mentah dan CPO terutama melalui sektor biodiesel, kenaikan harga energi membuat sawit menjadi alternatif yang jauh lebih ekonomis dan diburu pasar.
“CPO berpotensi laku tajam karena posisinya sebagai substitusi utama minyak nabati lainnya yang distribusinya mungkin terhambat akibat gangguan logistik di jalur perdagangan internasional seperti Laut Merah,” ujar seorang analis ekonomi.
BACA JUGA : Bongkar Sindikat Judi Online dan Pencucian Uang Lintas Negara, Bareskrim Polri Sita Aset Miliaran
Hingga awal April 2026, harga CPO di pasar domestik sudah merangkak naik ke level Rp15.615 per kilogram. Para pelaku pasar melihat peluang besar bagi Indonesia sebagai produsen sawit terbesar di dunia untuk mengoptimalkan ekspor ke pasar-pasar non-tradisional yang sedang mencari alternatif energi murah.
Namun, pengamat mengingatkan agar pelaku industri tetap waspada terhadap lonjakan biaya logistik. Meski harga jual diprediksi bakal “to the moon”, tantangan berupa kenaikan biaya asuransi pengiriman dan risiko keamanan jalur pelayaran tetap menjadi faktor yang bisa menggerus margin keuntungan.
Kini, mata investor tertuju pada bursa derivatif di Malaysia dan Indonesia, menantikan sejauh mana sentimen perang ini akan membawa harga CPO ke rekor tertinggi baru di tahun ini. (red)






