Webinar Pariwara Antikorupsi 2026: Mengemas Pesan Antikorupsi Menjadi Narasi yang Unik dan Inspiratif

KPK11 Dilihat

JAKARTA, radarpenanews.com – Mengemas pesan antikorupsi agar tidak terdengar kaku dan menggurui menjadi tantangan tersendiri di era digital. Kesadaran itulah yang mendorong Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menggelar webinar seri perdana Pariwara Antikorupsi 2026 bertajuk “Unboxing the Message: Strategi Menemukan ‘Angle’ Kampanye Antikorupsi yang Unik”.

Diselenggarakan secara daring, webinar ini tidak hanya membahas aspek teknis penyusunan kampanye, tetapi juga mengajak para praktisi kreatif dan pemerintah daerah melihat isu antikorupsi dari sudut pandang yang lebih segar, relevan, dan dekat dengan keseharian masyarakat.

Direktur Sosialisasi dan Kampanye Antikorupsi KPK, Amir Arief, menegaskan bahwa kolaborasi lintas sektor menjadi langkah penting untuk memperluas jangkauan gerakan antikorupsi hingga ke berbagai daerah di Indonesia.

BACA JUGA : Pecahkan Rekor MURI, Sirnas C Piala Kajati Jatim 2026 Jadi Arena Prestasi Ribuan Atlet Bulutangkis Nasional

“Keterlibatan seluruh pihak sangat kami harapkan. Pada akhirnya, masyarakatlah yang akan merasakan manfaatnya melalui kualitas pelayanan publik yang semakin baik,” ujar Amir saat membuka webinar melalui kanal YouTube KPK pada Kamis (18/6).

Dalam upaya menemukan sudut pandang kampanye yang tepat, KPK juga menekankan pentingnya pemanfaatan data Survei Penilaian Integritas (SPI) sebagai landasan dalam merumuskan ide dan pesan kampanye.

Koordinator Program SPI KPK, Timotius Hendrik Partohap, menjelaskan bahwa SPI bukan sekadar kumpulan angka, melainkan kompas yang dapat membantu lembaga memetakan area perbaikan sekaligus mengidentifikasi isu yang relevan untuk dikampanyekan.

“Ruang gerak kita untuk melakukan perbaikan di lembaga masing-masing masih sangat besar. Artinya, materi untuk dikampanyekan dan disosialisasikan kepada berbagai pihak juga semakin banyak,” tegasnya.

Ia menambahkan, berbagai data yang dihasilkan SPI dapat diolah menjadi cerita dan sudut pandang yang unik dalam mendukung partisipasi pada Pariwara Antikorupsi 2026.

Perspektif industri kreatif turut dihadirkan untuk mengupas tantangan komunikasi publik saat ini. Corporate Communication Director Future Creative Network, Alya Namira, menilai bahwa pesan antikorupsi sering kali dianggap membosankan karena disampaikan dengan cara yang kurang relevan bagi audiens.

“Padahal, pesan antikorupsi adalah isu nasional yang sangat penting. Kadang-kadang pesan yang paling penting justru kalah oleh pesan yang paling ringan,” tutur Alya.

Dalam paparannya, Alya menguraikan sejumlah faktor yang membuat pesan antikorupsi kerap diabaikan, sekaligus menawarkan berbagai pendekatan untuk mengatasinya. Mulai dari penyampaian yang lebih relevan, penggunaan bahasa yang lebih segar, hingga pemilihan visual yang menarik.

“Jika insight, tension, dan audiens tidak dipahami, maka kampanye tersebut hanyalah tagline kosong,” tegasnya.

BACA JUGA : Sindikat Mafia Solar Aniaya Wartawan, Polisi Diminta Tindak Tegas

Menurut Alya, seorang kreator juga perlu memahami secara mendalam siapa audiens yang dituju. Pesan yang ditujukan kepada publik, misalnya, membutuhkan pendekatan yang berbeda daripada komunikasi internal, termasuk dalam menentukan angle dan narasi yang digunakan.

Webinar ini menjadi pembuka rangkaian seri edukasi Pariwara Antikorupsi 2026. Sesi berikutnya akan membahas berbagai topik menarik, mulai dari pengembangan ide kreatif, teknik storytelling, hingga produksi desain visual yang dijadwalkan berlangsung pada 25 Juni mendatang.

Melalui rangkaian pembekalan tersebut, KPK berharap peserta dari pemerintah daerah maupun BUMD mampu menghasilkan karya kampanye antikorupsi yang lebih kreatif, masif, dan terintegrasi sebelum masa penilaian berakhir pada September 2026. (*/dym)