Kunci Batik Tulis Mendunia ala Prof. Ully Guru Besar Unitomo

RUANG INFORMASI15 Dilihat

Prof. Dr. Dra. Liosten Rianna Roosida Ully Tampubolon, M.M., saat dikukuhkan sebagai Guru Besar bidang Ilmu Manajemen Organisasi pada Fakultas Ekonomi & Bisnis Universitas Dr. Soetomo (Unitomo), Surabaya, Kamis (21/5/2026). Foto: ist

SURABAYA, radarpenanews.com – Industri batik tulis Indonesia dituntut mengintegrasikan kearifan lokal dengan inovasi teknologi modern agar mampu menembus pasar fashion dunia. Langkah strategis ini diyakini dapat mendongkrak efisiensi produksi sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.

Pandangan tersebut disampaikan oleh Prof. Dr. Dra. Liosten Rianna Roosida Ully Tampubolon, M.M., dalam orasi ilmiahnya saat dikukuhkan sebagai Guru Besar bidang Ilmu Manajemen Organisasi pada Fakultas Ekonomi & Bisnis Universitas Dr. Soetomo (Unitomo), Surabaya, Kamis (21/5/2026).

Dalam orasinya yang berjudul “From Heritage to Global Fashion: Optimalisasi Diversifikasi Batik Tulis Berbasis Inovasi Teknologi menuju Industri Kreatif Dunia”, perempuan yang akrab disapa Prof. Ully ini menyoroti sejumlah hambatan yang kerap dihadapi Industri Kecil dan Menengah (IKM) batik nasional.

BACA JUGA : Blunder Cerdas Cermat Pontianak: Ada Apa NKRI?

“Selama ini, penetrasi pasar global industri batik kerap terbentur pola produksi tradisional, minimnya diversifikasi, serta rendahnya literasi digital,” ujar Ully.

Menurutnya, integrasi teknologi modern menjadi jembatan strategis untuk membawa batik ke panggung mode dunia tanpa menghilangkan nilai otentisitas budayanya.

Lonjakan Produksi hingga 373 Persen

Riset Ully sepanjang periode 2014–2026 memperlihatkan hasil konkret implementasi teknologi pada ekosistem IKM batik di Jawa Timur. Salah satunya diterapkan pada produk Batik Tulis Aromatherapy Al-Warits di Bangkalan, Madura.

Lewat pemanfaatan mesin pelorot malam inovatif, kapasitas produksi batik tulis berhasil melonjak hingga 373 persen dibandingkan metode konvensional. Selain itu, tingkat kecacatan produk berhasil ditekan drastis dari 15 persen menjadi hanya 1 persen.

Ully juga mengenalkan Mesin Peratusan Aromatherapy yang mampu membuat aroma wangi pada kain bertahan hingga 3 tahun, serta Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) untuk mengolah limbah zat pewarna sintetis menjadi air bersih.

Saat ini, produk batik inovatif tersebut telah menembus pasar ekspor ke Amerika Serikat, Eropa, Australia, Jepang, Singapura, hingga Thailand. Untuk menghadapi persaingan ketat dari China dan Malaysia, dikembangkan pula mesin pembuat motif batik otomatis guna memperkaya variasi desain.

Dorong Hilirisasi Riset

Akselerasi batik tulis menuju ekosistem mode internasional dinilai membutuhkan kolaborasi erat dari konsep triple helix, yaitu perguruan tinggi, pelaku usaha, dan pemerintah.

Rektor Unitomo, Prof. Dr. Siti Marwiyah, S.H., M.H., menegaskan komitmen kampus dalam mendorong hilirisasi riset agar memberikan solusi riil bagi ekonomi kerakyatan.

“Kami tidak ingin karya ilmiah hanya berakhir sebagai dokumen di rak perpustakaan. Inovasi teknologi tepat guna yang digagas Prof. Ully adalah bukti nyata bagaimana sains manajemen organisasi mampu mengubah industri mikro menjadi pemain global,” ujar Siti Marwiyah.

BACA JUGA : Gebyar Diskon Pemasangan Sambungan Rumah Perumda Air Minum Surya Sembada Kota Surabaya

Ia menambahkan, ketangguhan perajin batik nasional juga harus didukung regulasi pemerintah, mulai dari kemudahan akses pembiayaan UMKM, perlindungan Hak Kekayaan Intelektual (HKI), hingga penyediaan infrastruktur digital global.

Rapat Terbuka Senat Unitomo ini turut dihadiri oleh Kepala LLDIKTI Wilayah VII, Prof. Dr. Dyah Sawitri, S.E., M.M., serta jajaran pimpinan Yayasan Pendidikan Cendekia Utama (YPCU).

Selain itu, prosesi pengukuhan ini juga disaksikan langsung oleh para dosen, karyawan Unitomo, serta sejumlah tamu undangan dari kalangan akademisi dan praktisi industri kreatif. (*/dym)