Ritual Larung Sungai 2025, Gatotstrenkali: Cara Berbicara dengan Alam dan Kekuasaan

RUANG INFORMASI33 Dilihat

Warga melakukan ritual larung Sungai Strenkali Surabaya (Dok.ist/RPN)

SURABAYA, radarpenanews.com – Warga Strenkali Surabaya menunjukkan bahwa mereka tidak hanya menjadi korban dari pandangan yang keliru, tetapi juga menjadi agen perubahan dengan mengembangkan solusi inovatif untuk menghadapi tantangan lingkungan.

Kegiatan Larung Sungai dan ritual adat lainnya mempertegas identitas mereka sebagai Penjaga Sungai dan menunjukkan komitmen mereka untuk menjaga lingkungan.

Hal ini disampaikan Gatot Strenkali salah satu aktifis kemanusiaan pada Minggu pagi di Surabaya (14/12/2025) saat acara Larung Sungai 2025 digelar.

BACA JUGA : Bencana Alam Adalah Predictable Risk dapat Dipetakan, Dimitigasi dan Dikelola melalui Sistem yang Matang

Gatot mengungkapkan, kearifan lokal dapat menjadi sumber inspirasi untuk solusi lingkungan yang inovatif, komunitas dapat menjadi agen perubahan yang kuat dalam menjaga lingkungan dan mengubah pandangan negatif menjadi positif dapat menjadi strategi efektif untuk meningkatkan kualitas hidup

Lebih dalam digambarkan, suasana yang sangat sakral dan penuh makna. Ritual Larung Sungai menjadi momen yang sangat penting bagi warga Strenkali Surabaya untuk mempertegas identitas sebagai Penjaga Sungai. Perahu bambu kecil yang dihanyutkan ke sungai dengan tumpeng nasi, bunga, dan jajanan pasar melambangkan harapan dan doa mereka untuk keberkahan dan keseimbangan alam.

Ritual Larung Sungai ini sambung Gatot, memiliki makna yang lebih dalam daripada sekadar pelestarian budaya. Ini adalah bentuk perlawanan sipil yang telah berlangsung selama lebih dari dua dekade, menunjukkan bahwa warga Strenkali Surabaya tidak hanya mempertahankan tradisi, tetapi juga mempertahankan hak atas tanah dan rumah mereka.

“Bahwa kemiskinan perkotaan tidak berarti ketidakpedulian lingkungan, tetapi justru menunjukkan kesadaran dan kepedulian terhadap lingkungan,” tegasnya.

Gatot dengan bijak mengutarakan, Larung Sungai adalah cara warga Strenkali Surabaya berbicara dengan alam dan kekuasaan. Ritual ini bukan hanya sekadar tradisi, tetapi juga sebuah perlawanan sipil yang penuh makna.

Menurutnya, istilah strenkali merujuk pada pemukiman yang menempati sempadan atau bantaran sungai, yang sering kali dicap sebagai Kampung kumuh atau Kampung liar.

Namun, warga Strenkali Surabaya membuktikan bahwa tidak hanya menjadi korban dari pandangan negatif, tetapi juga menjadi agen perubahan dengan mengembangkan solusi inovatif untuk menghadapi tantangan lingkungan.

“Ritual Larung Sungai adalah contoh nyata dari kepasrahan dan rasa syukur warga kepada alam, serta upaya spiritual untuk menolak marabahaya dan mempertahankan hak atas tanah dan rumah mereka,” tuturnya.

Menurut Gatot, Sejarah perjuangan ini dimulai pada tahun 2002. Saat itu, Pemerintah Kota Surabaya berencana melakukan pembersihan besar-besaran di sepanjang bantaran sungai demi alasan keindahan kota dan pencegahan banjir. Warga Strenkali dipandang sebagai penyebab utama pendangkalan dan pencemaran sungai.

BACA JUGA : Waduh! Sapi Bantuan di Desa Tuban Ini Dijual?

Alih-alih menyerah pada buldoser, warga mengorganisir diri. Mereka menyadari bahwa untuk bertahan, mereka harus mengubah citra diri dari perusak menjadi penjaga sungai. Mereka memulai kampanye Jogo Kali menjadikannya sebuah identitas baru.

Kampanye ini berhasil mengubah pandangan masyarakat dan pemerintah terhadap warga Strenkali. “Mereka tidak lagi dipandang sebagai penyebab utama pendangkalan dan pencemaran sungai, tetapi sebagai penjaga sungai yang peduli terhadap lingkungan,” pungkasnya. (red1)